Konut | JurnalCelebes.co — Disaat ingin mengakomodir seluruh kepentingan elemem masyarakat dan sejumlah pengusaha yang berhubungan dengan UPP Syahbandar Molawe di Konawe Utara. Namun terkadang menuai pro kontra tentang kinerja dan aktifias pelabuhan. Diastu, pihak menyampaikan protes karena dinilai tidak sesuai aturan, tetapi disisi lain ada pihak pihak yang merasa dirugikan. Statemen ini disampaikan oleh Syafar Koordinator TKBM Konut, Senin, 15 Juli 2019.

Inilah, polemik yang muncul terhadap aktifitas bongkar muat Wilayah Syahbandar UPP Molawe Konawe Utara. Sehingga Para Pekerja TKBM Konut Raya, yang di koordinir oleh Syafar Selaku Ketua Tim Koordinator Mendatangi Kantor UPP Molawe Konut, menuntut kepada pihak pelabuhan UPP Molawe agar tidak menghentikan kegiatan vessel.

Sekitar kurang lebih 50 orang tenaga kerja mendatangi Kantor UPP Molawe ini, menuntut agar tidak menghentikan kegiatan vessel yang berkegiatan Di Matarappe karena dinilai telah sesuai dengan aturan UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Kata Syafar Koodinator TKBM.

Para pekerja ini mengecam pernyataan Ketua LSM Lempeta, Saudara Ashari yang justru karena diduga kepentingan pribadinya tidak terpenuhi, malah akan merugikan masyarakat yang bekerja di vessel. TKBM dan masyarakat akan mencari ketua LSM Lempeta saudara Ashari untuk bertemu langsung dan meminta untuk bertanggung jawab atas pernyataannya
di media. Tegas Syafar.

Terkait, pernyataan di media mengenai dugaan pungli, Syahbandar Molawe dan PT LBS , oleh Ketua Lempeta Konawe Utara, dengan mengungkapkan statemen adanya “Upaya kongkalikong yang diskenarioi oleh Syahbandar dengan PT. LBS,” . “Dugaan pungli dan semua tuduhan itu tidak benar dan tidak mendasar,” Kata Syafar.

Perihal tersebut, pernyataan ini idealnya harus seimbang dan sifatnya membangun, Kata Syafar selaku Ketua koordinatoor TKBM, dan kami juga sebagai pekerja merasa dirugikan ketika aktifitas vesser dihentikan. Tegas Syafar. (Tim)

Laporan : Bahar/Calu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here